Desa Nyanglan merupakan desa di Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Bali, yang berada di wilayah perbatasan Klungkung dan Bangli. Artikel ini disusun oleh Mahasiswa KKN PPM Periode XXXIII tahun 2026 Desa Nyanglan sebagai bentuk dokumentasi informasi mengenai berbagai potensi, keunikan, serta kehidupan sosial dan budaya yang dimiliki oleh Desa Nyanglan.
Desa Nyanglan dikenal dengan kehidupan adat yang masih kuat, Desa Nyanglan juga memiliki beragam potensi lokal, mulai dari sektor pertanian, peternakan, UMKM olahan pangan, hingga pengembangan wisata berbasis alam. Keberagaman potensi tersebut menjadi kekuatan desa dalam menjaga warisan budaya sekaligus mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ketahanan Sosial: “Dua Kabupaten, Satu Adat”
Salah satu keunikan dan kekuatan terbesar Desa Nyanglan terletak pada kuatnya persatuan masyarakat dalam kehidupan sosial dan adat. Meskipun secara administratif kedinasan terbagi menjadi dua wilayah kabupaten wilayah (Kabupaten Klungkung dan Kabupaten Bangli), kehidupan sosial dan adat masyarakat tetap menyatu tanpa sekat.
Seluruh warga bernaung dalam Kahyangan Tiga yang sama dan menggunakan fasilitas Setra adat secara bersama-sama. Keharmonisan ini terwujud secara nyata dalam kehidupan sehari-hari dan tatanan keagamaan seperti:
Meskipun saat ini aturan adat (awig-awig) masih bersumber dari penyampaian lisan dan terus disosialisasikan, nilai-nilai persatuan ini menjadi pondasi utama yang menjaga kerukunan antarwarga.
Sektor pertanian dan peternakan merupakan salah satu pilar utama perekonomian masyarakat Desa Nyanglan. Didukung oleh kondisi tanah yang subur serta sistem irigasi subak yang masih terjaga dengan baik, sektor pertanian di desa ini mampu menghasilkan produksi yang berkelanjutan. Masyarakat menerapkan pola tanam yang efektif dengan melakukan rotasi antara tanaman padi dan tanaman sayuran hijau setelah masa panen. Pola tersebut tidak hanya menjaga produktivitas lahan, tetapi juga membantu mempertahankan kesuburan tanah. Selain itu, kendala yang dihadapi petani relatif minim. Gangguan hama, seperti tikus memang masih dijumpai, namun intensitasnya tergolong rendah dan jarang menimbulkan gagal panen dalam skala besar.
Selain pertanian, sektor peternakan juga menjadi salah satu potensi ekonomi yang terus berkembang di Desa Nyanglan. Masyarakat mengelola usaha peternakan ayam petelur dan ayam pedaging (broiler) secara mandiri sebagai sumber pendapatan tambahan. Saat ini terdapat sekitar empat unit usaha peternakan ayam pedaging serta beberapa peternakan ayam petelur yang dikelola oleh warga setempat. Didukung oleh kondisi lingkungan yang sejuk serta lokasi peternakan yang relatif jauh dari kawasan permukiman, Desa Nyanglan memiliki kondisi yang kondusif untuk mendukung pengembangan usaha peternakan secara berkelanjutan. Potensi tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai salah satu sektor yang berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.
Potensi UMKM Olahan Kacang
Desa Nyanglan memiliki potensi unggulan pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya dalam pengolahan produk berbahan dasar kacang. Produk olahan kacang telah menjadi salah satu ciri khas masyarakat Desa Nyanglan dan diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari usaha rumah tangga masyarakat.
Produk yang paling banyak diproduksi adalah Kacang Kece/Kacang Koro, Kacang Tanah, dan Kacang Mentik. Industri rumah tangga ini telah berkembang sejak awal tahun 1900-an dan bertahan hingga sekarang. Selain olahan kacang, masyarakat juga memproduksi kripik usus, serundeng (saur). Pemasaran produk olahan kacang dan serundeng buatan warga Nyanglan telah merambah hingga pasar di luar Pulau Bali.
Keberadaan industri rumah tangga olahan kacang koro juga mendapat perhatian dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Pendampingan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas produksi, tetapi juga pada pengelolaan limbah hasil produksi agar usaha dapat berkembang secara berkelanjutan. Hal ini menunjukkan bahwa industri olahan kacang di Desa Nyanglan memiliki potensi yang besar untuk terus dikembangkan melalui inovasi produk, peningkatan kualitas kemasan, branding, dan pemanfaatan pemasaran digital sehingga mampu meningkatkan daya saing produk lokal serta kesejahteraan masyarakat.
Perkembangan usaha kecil ini menunjukkan adanya semangat kemandirian ekonomi masyarakat. Dengan dukungan pelatihan, pemasaran, dan pemanfaatan teknologi informasi, potensi ekonomi masyarakat Desa Nyanglan masih memiliki peluang untuk terus berkembang.
Tradisi dan Kebudayaan Khas: Ngusaba Bulih Lablab
Sebagaimana desa yang menjunjung tinggi kearifan lokal Bali, Desa Nyanglan memiliki tradisi keagamaan unik yang spesifik dan berkaitan erat dengan ucapan rasa syukur atas kesuburan pertanian.
Ngusaba Bulih Lablab, sebuah upacara adat yang dilaksanakan setiap tahun di lingkungan pura subak sebagai rangkaian ritual sebelum dimulainya musim pembibitan padi. Tradisi ini merupakan bentuk ungkapan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas anugerah kesuburan tanah sekaligus permohonan agar musim tanam yang akan datang diberikan hasil panen yang baik serta terhindar dari hama dan berbagai gangguan terhadap tanaman padi.
Dalam pelaksanaannya, upacara ini melibatkan krama subak dan masyarakat Desa Nyanglan yang bersama-sama mempersiapkan sarana upacara, menghaturkan banten, serta melaksanakan persembahyangan di pura subak. Tradisi ini tidak hanya memiliki makna religius, tetapi juga memperkuat nilai gotong royong, kebersamaan, dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan pertanian. Penelitian mengenai implementasi Tri Hita Karana dalam ritual tradisional Bali menunjukkan bahwa nilai Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan tercermin dalam berbagai upacara adat sebagai wujud keharmonisan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan (Narti, 2024; Panggung, 2022). Dalam konteks ini, Upacara Ngusaba Bulih Lablab dapat dipahami sebagai salah satu tradisi yang merepresentasikan ketiga dimensi tersebut. Melalui upacara tersebut, masyarakat memuliakan Dewi Sri sebagai simbol kesuburan serta menunjukkan penghormatan terhadap alam yang menjadi sumber kehidupan mereka.
Salah satu bagian yang menjadi ciri khas masyarakat Desa Nyanglan adalah adanya tradisi lempar ketupat yang dikenal masyarakat sebagai bagian dari rangkaian Ngusaba Bulih Lablab. Tradisi ini dilaksanakan setelah prosesi persembahyangan di pura subak sebagai simbol kebersamaan, rasa syukur, serta harapan agar bibit padi yang akan ditanam memperoleh keberkahan dan menghasilkan panen yang melimpah. Hingga saat ini, tradisi tersebut masih dipertahankan sebagai warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Nyanglan. (Informasi mengenai prosesi lempar ketupat ini berasal dari keterangan Pemerintah Desa/Perbekel Desa Nyanglan dan belum banyak terdokumentasi dalam publikasi ilmiah.)
Dengan tetap menjaga tradisi dan kehidupan adat, masyarakat Desa Nyanglan tidak hanya mempertahankan warisan leluhur, tetapi juga memperkuat jati diri desa sebagai komunitas yang harmonis, religius, dan berlandaskan nilai-nilai kebersamaan. Tradisi yang terus dilestarikan ini menjadi kekayaan budaya yang sangat berharga bagi Desa Nyanglan, baik untuk generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.
Pelestarian tradisi ini juga didukung oleh keberadaan Sekaa Truna-Truni (STT) yang aktif. Generasi muda Desa Nyanglan secara rutin dilibatkan dalam rapat tahunan (sangkepan), persiapan upacara, hingga pelaksanaan kegiatan sosial-budaya desa.
Sebagai upaya meningkatkan kualitas ruang publik sekaligus mendukung gaya hidup sehat masyarakat, Pemerintah Desa Nyanglan membangun Jogging Track Desa Nyanglan pada tahun 2026. Fasilitas ini berada di tengah hamparan persawahan dengan panjang lintasan sekitar 1,6 kilometer, sehingga memberikan suasana yang asri, sejuk, dan nyaman bagi pengunjung.
Jogging Track Desa Nyanglan dikembangkan sebagai ruang terbuka hijau yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk berolahraga, bersantai, sekaligus menikmati keindahan alam pedesaan. Selain menjadi sarana olahraga, kawasan ini juga diarahkan sebagai wisata tani desa yang memperkenalkan lanskap persawahan sebagai salah satu daya tarik Desa Nyanglan. Pengunjung dapat menikmati suasana pedesaan yang masih alami, terutama pada pagi hari saat matahari terbit (sunrise) maupun sore hari ketika matahari terbenam (sunset).
Untuk menambah kenyamanan pengunjung, kawasan jogging track juga dilengkapi dengan beberapa spot foto dan sunset point yang menjadi lokasi favorit masyarakat untuk mengabadikan momen di tengah panorama persawahan. Kehadiran fasilitas tersebut menjadikan Jogging Track Desa Nyanglan tidak hanya berfungsi sebagai tempat berolahraga, tetapi juga sebagai ruang rekreasi yang dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.
Saat ini, Jogging Track Desa Nyanglan telah dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai lokasi aktivitas olahraga, seperti jalan santai dan lari, serta menjadi tempat berkumpul komunitas olahraga. Selain itu, kawasan ini juga mulai dikenal sebagai lokasi untuk menikmati keindahan matahari terbit dan matahari terbenam dengan latar hamparan sawah yang hijau. Ke depan, Jogging Track Desa Nyanglan diharapkan dapat menjadi salah satu ikon desa yang mendukung pengembangan wisata berbasis alam sekaligus membuka peluang bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pengembangan UMKM dan kegiatan wisata lokal.