Profil Sosial Masyarakat

Administrator

Profil Sosial Budaya

Tradisi Ngangon Pada Upacara Mapag Toya Di Pura Subak Desa Nyanglan

              Bali terkenal dengan kebudayaannya oleh karena keuniknnya yang kekhasannya yang dapat tumbuh dari jiwa Agama Hindu, tidak dapat dipisahkan dari  keseniannya, dalam masyarakat yang berciri sosial, relegius yang mampu memberikan keharmonisan dan keseimbangan antara masyarakat dengan tradisi-tradisi relegiusnya pada kehidupan sehari-hari. Fleksibelitas dari ajaran Agama Hindu dengan nilai spiritual dalam ritual (tradisi) itu dengan penuh menerima dan memasuki lokal genius itu sekaligus menjadi jiwanya.

              Maka dari itu muncullah cipta, rasa dan karsa orang Bali yang bernafaskan ajaran Agama Hindu berupa kebudayaan Bali yang di warisi. Umat Hindu memiliki tradisi dan budaya yang beraneka ragam di wilayah nusantara ini, walaupun sama-sama menganut satu keyakinan, khususnya pada tradisi Nyangon dalam upacara Mapag Toya  tetapi perbedaan itu bukanlah berarti berbeda secara sepenuhnya, karena di dalam upacara Agama Hindu walaupun dari wujud persembahan berbeda diantara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya tetapi memiliki filosofis dan makna yang sama. Dengan kerberagaman adat istiadat tersebut memunculkan suatu tradisi yang bersifat sakral yang ada di Bali, salah satunya yaitu tradisi Nyangon terletak di Desa Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan Kabupaten Klungkung yang memiliki pradaban dalam hal adat istiadat dalam tata cara keberagaaan yang telah diwariskan oleh nenek moyang jaman terdahulu, yaitu adanya tradisi Nyangon dalam upacara Mapag Toya yang dilaksanankan di Pura Subak Tegal Suci Desa Nyanglan. yang dilakasanakan  setiap satu tahun sekali. tradisiNyangon yangtermasuk dalam bagian dari upacara Dewa Yadnya yang mejadi suatu kepercayaan masyarakat terhadap tradisi keagamaan memilikki nilai kesakra, yang mencerminkan nilai-nilai spriritual dan kebersamaan, sehingga  tradisi ini masih dilestarikan masyarakat Nyanglan pada khususnya.

              Tradisi Nyangon merupakan salah satu tradisi keagamaan/ wali yang mencerminkan nilai-nilai spritual dan kebersamaan yang dilakasanakan secara turun temurun yang telah diwariskan oleh nenek moyang terdahulu yang harus dilaksanakan, jika  tradisi ini tidak dilaksanakan akan  dapat mempengaruh terhadap pengairan dan kesuburan sawah para petani. Maka  dengan demikian tradisi nyangon harus dilaksanakan agar medapatkan kesuburan dan hasil panen yang melimpah kepada para petani. Tradisi Nyangon pada upacara Mapag Toya ini merupakan suatu tradisi yang melambangkan para petani atau pengangon berkumpul bersama-sama menimakti hasil panen yang diterima dengan melakukan makan bersama (megibung) makanan tersebut sudah dipersiapan oleh Krama Subak.

              Dalam pelaksanakan hanya diperbolehkan para laki-laki dan tidak di perbolehkan diikuti oleh perempuan.Jika diikiuti oleh perempuan nanti dapat berpenganruh terhadap mengalirnya air.MapagToya dipandang sebagai hal yang essensial secara proposianal mempengaruhi keberhasilan yadnya atau upacara keagamaan di pura Subak.

              Tradisi Nyangon pada tradisi mapag toya memliki keunikan tersendiri yaitu dilihat dari keunikan desa nyanglan dan kesakralan sehingga tradisi nyangon ini hanya dilaksanakan di desa nyanglan yang dilkasanakan secara turun temuurun yang telah diwariskan oleh nenek moyang tedahulu, dalam tradisi ini dilaksanakan  suatu makan bersama (megibung) sebagai rasa syukur yang sebagai sujud bakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasayang telah melipahkan kesuburan dan mengalirnya air yang akan mengairi sawahnya agar mendapatkan hasil panen yang melimpah. yang  hanya dapat dilaksanakan di pura tegal suci di desa nyanglan.

              Tradisi Nyangon pada upacara Mapag Toya merupakan rangkaian upacara yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya karena mengandung nilai spiritual. Tradisi Nyangon tersebut melibatkan umat Hindu di Nyanglan khususnya yang ikut dalam Subak, sebagai wujud bakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah memberikan keselamatan dan kesejahteraan bagi uamat Hindu setempat. Tradisi Nyangon ini sudah ada sejak dahulu dan terus dilakasanakan mengingat warisan yang sangat relegius. Sepengetahuan peneliti sampai saat ini belum ada yanag mengkaji tentang tradisi Nyangon, Melihat dari kenyataan atau fenomena tersebut maka peneliti tertarik untuk meneliti “Tradisi Nyangon Pada upacara Mapag Toya di pura Subak Desa Nyanglan Kecamatan Banjarangkan Kabupaten Klungkung (Kajian Pendidikan Agama Hindu).Sumber; Skripsi I WAYAN OKA PUTRAWAN

 

 Mepeed Pendak (Jauman) 

  1. Mecaru Celeng Mecaling

              Kebudayaan-kebudayaan asli Bali yang telah di jiwai oleh agama Hindu tidak terhitung jumlahnya. Kebudayaan-kebudayaan ini menjadi tradisi-tradisi yang beragam bentuknya  pada setiap Desa di pulau Bali. Setiap tradisi tersebut memiliki keunikan dan kekhasannya tersendiri.Tradisi-tradisi ini lazim disebut drsta. Drsta pada dasarnya berasal dari bahasa sansekerta dari urat kata drsyang artinya memandang. Jadi drsta sendiri berarti cara umat memandang ajaran agama Hindu serta pada akhirnya berusaha menerapkan pemahaman daya pandangnya tersebut kedalam tindakan-tindakan nyata. Penerapan drsta ini ada empat perwujudannya di masyarakat yaitu :sastra drsta, desa drsta, kula drsta, loka drsta dankuna drsta (Sumardana,2013:7).

              Sastra drsta adalah tradisi yang turun temurun berlaku di masyarakat dilaksanakan atas dasar satra yang tertulis sebagai dasar penerapannya.Dasar sastra yang dimaksud adalah penjabaran ajaran Veda dalam bentuk lontar-lontar tertentu.Tradisi semacam ini dapat berlaku di seluruh wilayah Bali seperti pelaksanaan hari-hari suci agama Hindu yang bersifat universal berdasarkan lontar-lontar kuno.Kula drsta adalah tradisi yang turun temurun diawasi oleh satu keluarga tertentu biasanya berupa pantangan yang tertulis dalam Babad atau silsilah keluarga.

              Desa drsta adalah tradisi yang berlaku pada satu wilayah desa tertentu.Tradisi ini lahir berdasarkan suatu sastra ataupun keyakinan umat saja dan diikuti secara turun temurun. Tradisi ini tanpa sastra yang jelas serta tidak berlaku pada desa yang lain. Loka drsta hampir sama dengan Desa drsta tetapi ruang lingkupnya lebih luas dipercayai dan dilaksanakan oleh beberapa Desa. Terakhir adalah Kuna drsta yaitu tradisi yang turun-temuru dilakukan oleh masyarakat dari sejak dahulu, walaupun dil;aksanakan tetapi masyarakat tidak mengetahui secara pasti kapan awal mulanya tradisi ini berlaku. Masyarakat menjalankan tradisi kuna drstahanya berdasrkan gugon tuwon semata yang menyatakan jika tradisi tersebut tidak di laksanakan pasti akan menimbulkan suatu malapetaka.

              Berdasarkan semua pengertian diatas masyarakat Desa Nyanglan menerapkan salah satu tradisi yang termasuk kedalam kategori Desa drsta.Tradisi ini bernama Upacara Macaru Celeng Macaling yang hanya dilakukan oleh masyarakat Desa Nyanglan semata.Dalam pelaksanaan Upacara Macaru Celeng Macaling ini dinyatakan oleh masyarakat sebagai bagian dari penerapan ajaran Bhuta Yadnya serta sarat mengandung nilai-nilai pendidikan sosio religius di dalamnya. Keberadaan tradisi ini yang berbeda dengan pelaksanaan Bhuta Yadnya di daerah lain merupakan keunikan tersendiri jika ditinjau dari asal mula keberadaannya yang berkaitan dengan adanya kejadian merana di masa lampau  diDesa Nyanglan. Ada penyakit yang menghantui penduduk dahulu di Desa Nyanglan. Masyarakat akhirnya memohon petunjuk untuk menetralisir penyakit yang terjadi. Akhirnya di dapatkan sebuah sabda suci untuk melaksanakan Upacaca Macaru yang harus menggunakan sarana Celeng Macaling dan di laksanakan setiap Kajeng Kliwon Uwudan Sasih Kanem.Masyarakat mengikuti petunjuk tersebut dan ternyata ternyata wabah yang terjadi bisa di netralisir.Pernah suatu ketika penggunaan Celeng Macaling ini diganti menggunakan babi hitam biasa tetapi hasilnya tidak optimal sehingga kembali menggunakan Celeng Macaling.Memahami sedikit asal mula penggunaan Celeng Macaling pada Upacara Macaru ini sangat menarik untuk diteliti. Sebab penggunaan Celeng Macaling sangatlah unik karena tidak terdapat di daerah lain di Klungkung.

              Berdasrkan latar belakang diatas, peneliti sangat tertarik untuk mengetahui Upacara Macaru Celeng Macaling di Desa Nyanglan.Oleh karena itu disusunlah skripsi dengan Judul ''Upacara Macaru Celeng Macaling Di Desa Nyanglan (Perspektif Pendidikan Sosio Religius)."   Sumber; Skripsi IDA BAGUS GEDE PUNIA MANUABA.

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini. Gunakan bahasa yang santun dan komentar baru terbit setelah disetujui Admin.

CAPTCHA Image
[ Ganti Gambar ]
Isikan kode di gambar

Peta Desa

Layanan Mandiri


Silakan datang atau hubungi operator desa untuk mendapatkan kode PIN anda.

Masukan NIK dan PIN

Sinergi Program

Prodeskel Pajak Online

Aparatur Desa

Perbekel

Info Media Sosial

Facebook

Statistik Pengunjung

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung

Komentar Terkini